Showing posts with label Uneg Uneg. Show all posts
Showing posts with label Uneg Uneg. Show all posts

Monday, June 20, 2011

Uniknya Lirik Lagu Campursari (update 21/06/2011)

Campursari adalah musik tradisional khas Jawa. Seiring dengan perkembangan zaman, campursari pun mengalami berbagai perubahan, baik dari segi instrumen pengiring, irama maupun lirik dan tema lagunya.

Sebagaimana dikutip dari yudhipri.wordpress.com :

"Istilah campursari dalam dunia musik nasional Indonesia mengacu pada campuran (crossover) beberapa genre musik kontemporer Indonesia. Nama campursari diambil dari bahasa Jawa yang sebenarnya bersifat umum. Musik campursari di wilayah Jawa bagian tengah hingga timur khususnya terkait dengan modifikasi alat-alat musik gamelan, sehingga dapat dikombinasi dengan instrumen musik barat, atau sebaliknya. Dalam kenyataannya, instrumen-instrumen ‘asing’ ini ‘tunduk’ pada pakem musik yang disukai masyarakat setempat: langgam Jawa dan gending.

Campursari pertama kali dipopulerkan oleh Manthous dengan memasukkan keyboard ke dalam orkestrasi gamelan pada sekitar akhir dekade 1980-an melalui kelompok gamelan “Maju Lancar”. Kemudian secara pesat masuk unsur-unsur baru seperti langgam Jawa (keroncong) serta akhirnya dangdut.

Pada dekade 2000-an telah dikenal bentuk-bentuk campursari yang merupakan campuran gamelan dan keroncong (misalnya Kena Goda dari Nurhana), campuran gamelan dan dangdut, serta campuran keroncong dan dangdut (congdut, populer dari lagu-lagu Didi Kempot).

Meskipun perkembangan campursari banyak dikritik oleh para pendukung kemurnian aliran-aliran musik ini, semua pihak sepakat bahwa campursari merevitalisasi musik-musik tradisional di wilayah tanah Jawa."

Dari segi lirik, campursari mempunyai beragam warna, mulai dari jenaka, kepedihan hati, maupun pesan moral berkaitan dengan kehidupan sehari-hari. Bahkan tak sedikit yang nyerempet-nyerempet porno atau membuat pendengar mengasosiasikan porno.

Saya biasa menikmati alunan musik campursari melalui radio daripada memutarnya di komputer, karena koleksinya lebih beragam.


Berikut ini saya tampilkan salah satu lirik lagu campursari (berikut terjemahan dalam bahasa Indonesia) yang menurut saya menarik. Ada pesan moral di situ. Judulnya Ngamen 2. Ada beberapa penyanyi yang mendendangkan lagu ini, tapi saya pilih yang dinyanyikan oleh Eny Sagita.

Ngamen 2

Mak iki anakmu prawan (Ibu ini anak gadismu)
Wiwit cilik biyen ono ing perantauan (Sejak kecil hidup di perantauan)
Melu ngewangi ning kantin sekolahan (Ikut membantu di kantin sekolah)
Telung sasi mak aku urung bayaran (Tiga bulan bu aku belum diberi upah)

Mak dongamu mandi tenan (Ibu doamu sungguh mujarab)
Diijabali marang Gusti Pangeran (Dikabulkan oleh Tuhan)
Koyo ngene rasane wong ora duwe (Begini rasanya jadi orang tak punya/ miskin)
Duwe pisan diece karo kancane (Punya sekali saja diejek oleh teman-temannya)

Eling-eling menungso bakalan mati (Ingat-ingatlah manusia akan mati juga)
Yen wis mati dikubur sanak famili (Kalau sudah mati dikubur oleh sanak keluarga)
Dipendem jero diapit bumi (Ditanam dalam-dalam, diapit/ jepit bumi)

Ono kubur iku akeh panduso (Di dalam kubur banyak yang berdosa)
Ulo klabang kalajengking podho moro (Ular, kelabang, kalajengking berdatangan)
Ono setan memba-memba dadi prawan (Ada setan menyamar jadi gadis)
Beno krasan ning ono kuburan (Agar betah di alam kubur)

Ning akhirat ora ono montor liwat (Di akhirat tidak ada mobil lewat)
Ning akhirat ora ono sego berkat (Di akhirat tidak ada nasi kenduri)
Ning akhirat ora ono mejo bilyard (Di akhirat tidak ada meja bilyard)
Anane gadane malaikat (Yang ada hanya gada/ palu godam malaikat)

Sak sugih-sugihe uwong (Seberapapun kayanya seseorang)
Mesthi ono mlarate (Pasti ada sesuatu yang tidak dimiliki)
Sak mlarat-mlarate uwong (Seberapapun miskinnya orang)
Mesthi ono celengane (Pasti punya tabungan)

Makane golek bojo ojo mandang rupo (Maka dari itu cari pasangan jangan melihat fisik)
Rupo elek kuwi yo ora dadi ngopo (Walaupun buruk rupa tidak apa-apa)
Makane golek bojo ojo mandang bondho (Maka dari itu cari pasangan jangan melihat harta)
Sing penting ora ngenteni warisan morotuwo (Yang penting tidak mengharap warisan dari mertua)

Kowe pancen keren le (Kamu memang keren, nak)
Koyo bekas pacarku biyen (Seperti mantan kekasihku dulu)
Eman-eman tenan (Sayang sungguh sayang)
Kerenmu mung kanggo obralan (Kerenmu hanya untuk diobral)

Ngobral obral janji le (Mengobral janji, nak)
Durung mesthi uripmu mulyo (Belum tentu hidupnya sejahtera)
Mulo aku wis kondho (Itulah sebabnya aku pernah bilang)
Melu pak-ku urip nang deso (Ikut bapakku hidup di desa)

Ngewangi nggawe boto (Membantu membuat batu bata)
Menek klopo ceblok bongko (Memanjat pohon kelapa, jatuh, mati) (mp2)

Mainkan musiknya :


Download



Dari mana Asal Kata Gowes?




Sekitar tiga bulan lalu seorang teman saya (bekas teman satu kos waktu di Jogja dulu) datang berkunjung ke rumah saya.

Sebagaimana layaknya teman lama tak bertemu, kami pun ngobrol ngalor ngidul, kulon wetan, mulai dari keluarga, pekerjaan sampai hobi.

Dalam pembicaraan soal hobi, teman saya menyebut kata gowes. Spontan saya tanya, apa itu gowes? Bersepeda, katanya. Dan itu adalah kali pertama saya mendengar istilah gowes.

Belakangan, makin sering saja saya dengar istilah itu yang nampaknya sudah demikian populer di kalangan masyarakat, seiring dengan meningkatnya  minat masyarakat terhadap kegiatan bersepeda ria itu.

Iseng-iseng saya googling untuk mencari tahu, dari mana asal kata gowes dan apa arti sebenarnya. Ternyata, baik di Wikipedia maupun Kamus Bahasa Indonesia Online tidak mengenal kata itu. Namun dari berbagai situs/ blog saya dapatkan beberapa pendapat tentang istilah Gowes seperti ini :
  • Bahasa gaul yang dipopulerkan oleh Indra Bekti dan Indie Barens. (ternyata bukan. Gowes adalah plesetan dari yowes yang sering diucapkan Indra Bekti dalam program acara Ceriwis di Trans TV).
  • Gowes itu artinya genjot ora genjot wis teles, bahasa Indonesianya dikayuh atau tidak dikayuh badannya basah.
  • Artinya pergi ke barat, bang
  • Kutipan lirik lagu yang biasa dinyanyikan pesepeda :(Go West) Life is peaceful there, (Go West) In the open air, (Go West) Where the skies are blue, (Go West) This is what we're gonna do
  • Dari bahasa Jawa yang artinya : "goblok gak uwes-uwes" (goblok nggak selesai-selesai, goblok terus-terusan.
  • Ada juga yang bilang gowes itu artinya mengayuh, alias mengayuh sepeda.
  • Dari bahasa Jawa yang artinya “mengayuh”.

Yah, mudah-mudahan suatu saat nanti ada yang bisa menjawab rasa penasaran saya (dan mungkin Anda) tentang arti Gowes ini. Yang jelas, apapun artinya, semoga kegiatan bersepeda yang kian marak akhir-akhir ini bukan hanya sekedar trend, tapi menjadi sebuah budaya yang akan berdampak positif pada lingkungan kita. (mp2)



Sunday, June 19, 2011

RI-2 yang Terlupakan(?)

Pertanyaan itu yang kerap mengusik saat menyaksikan acara liputan kegiatan kepresidenan di media TV. Sudah sewajarnya RI-1 nongol di TV dan sudah sewajarnya juga RI-2 atas perannya sebagai orang no. 2 di Indonesia.

Tapi nyatanya, jarang sekali RI-2 diliput media. Saat awal berhembus kabar bahwa SBY meminta untuk mendampinginya sebagai wapres saja yang heboh,bahkan sempat menimbulkan kontroversi, mengingat adanya dugaan keterlibatannya dalam kasus Bank Century yang hingga kini tak kunjung tuntas.

Apakah karena mantan Gubernur BI itu bukan berasal parpol, hingga tak ada satupun dukungan untuk “mempromosikan” kiprahnya sebagai wapres?

Padahal Prof. Dr. Boediono adalah ahli ekonomi yang diharapkan akan memberikan sumbangsih terbaiknya untuk memperbaiki kondisi ekonomi negeri ini. Pasti itu adalah salah satu alasan kenapa SBY memilihnya untuk jadi pendamping.

Berbagai jabatan penting pernah didudukinya (Guru Besar UGM, Gubernur BI, Menteri Keuangan, Menko Perekonomian) dan dipandang sebagai salah seorang menteri paling berprestasi di Kabinet Gotong Royong, yang menunjukkan, bahwa ia memang dinilai sangat kredibel di bidangnya, tapi kenapa ia tak populer?





Topeng

Semua orang pasti tahu siapa itu Batman, Spider-man, Gundala, Zorro dan lain-lain. Ya, mereka adalah karakter komik yang populer tidak saja di kalangan anak-anak, tetapi juga dewasa. Dengan kostum nganeh-anehi, ditambah dengan topeng keren abis mereka malang melintang tak kenal lelah membasmi kejahatan. Tapi tak banyak yang tahu mengapa wajah mereka yang rata-rata digambarkan tampan itu justru ditutup topeng. 

Waktu anak saya tanya kenapa Batman memakai topeng, saya jawab sekenanya ”Biar keren, sayang”. Tentu tidak sesederhana itu. Satu alasan yang umum adalah supaya wajah asli mereka tidak dikenali. Coba bayangkan jika Sampeyan mempunyai kadigdayan seperti Superman, lalu, dengan penampilan seperti sehari-hari, Sampeyan hajar setiap preman dan penjahat yang getol bikin rusuh. Apa akibatnya? Preman dan penjahat itu pasti akan dendam kepada Sampeyan. Kalau premannya cerdas, mereka tidak akan secara jantan menantang Sampeyan untuk tarung lagi, karena pasti akan KO lagi. Mereka akan cari orang-orang yang terdekat dengan Sampeyan, misalnya anak, istri, pacar, PIL/ WIL, atau sahabat Sampeyan, lalu mereka sandera orang-orang itu. Sebagai orang yang lebih berprikemanusiaan daripada preman-preman itu, Sampeyan pasti akan memilih menyerah kalah daripada orang-orang yang Sampeyan cintai dilukai. Jadi gunanya topeng adalah untuk menjamin keselamatan orang lain.

Dari pandangan orang yang skeptis, jagoan bertopeng itu dianggap sebagai orang yang ”sakit”, berkepribadian ganda, dan tidak berbeda dengan penjahat yang dalam menjalankan aksinya juga menggunakan topeng walau tujuannya bertolak belakang.

Bagaimana dengan di dunia nyata?

Konon, di antara kita banyak juga yang “bertopeng”, hanya saja dalam konteks yang berbeda. Wujudnya pun tidak riil. Aslinya ia ada dalam diri setiap manusia yang setiap saat setiap waktu bisa disamarkan. Ia adalah watak/ sifat kita yang bisa setiap saat kita rubah dengan topeng sikap/ perilaku kita sehari-hari dan dibalut dengan kostum bernama kepura-puraan. Yang aslinya egois, mau menangnya sendiri, dalam keseharian bersikap mengalah, royal atau apapun yang baik-baik, yang membuat orang bersimpati. Yang aslinya mudah naik pitam, brangasan, dalam keseharian justru menunjukkan sikap penyabar, santun dan ramah yang membuat orang kepincut. Bila topeng seperti itu dirawat dan dipertahankan, alangkah indahnya hidup kita. Nyatanya, berhubung tak ada satupun yang abadi di dunia ini, maka topeng pun sesekali atau berkali-kali bisa pudar, berganti dengan wajah asli, atau bahkan topeng yang lain, seperti digambarkan dalam bait lagu God Bless: ”Dunia ini panggung sandiwara. Ceritanya mudah berubah. Ada peran wajar, ada peran berpura-pura. Mengapa kita bersandiwara?...” Dst. Dst.

Saat film ”Titanic” yang dibintangi Leonardo Di Caprio diluncurkan, seorang pengamat film memberikan komentar yang bunyinya kira-kira begini, “Tragedi Titanic merupakan analogi dari sebuah dunia kecil yang terdiri dari berbagai macam watak manusia. Jika Sampeyan ingin mengetahui watak asli seseorang, lihatlah saat ia dalam kepanikan...”. Setelah beberapa kali menyaksikan film tersebut di TV, saya baru paham dengan ungkapan sang pengamat. Betapa berbedanya sikap para penumpang kapal malang itu saat kapal dengan tenang melayari samudera dengan saat kapal pelahan-lahan tenggelam akibat menabrak gunung es di tengah malam yang dingin. Keharmonisan dalam kebersamaan berubah seratus delapan puluh derajat menjadi saling sikut, saling dorong dan saling injak demi menyelamatkan diri mereka sendiri. Saat itulah topeng-topeng memudar, melayang ke langit, berlomba dengan arwah-arwah mereka yang terinjak-injak atau tenggelam.

Bagaimanapun, mungkin karena adanya tuntutan jaman, topeng rasanya menjadi suatu kebutuhan demi menjaga hubungan antar sesama manusia. Topeng digunakan untuk meraih simpati orang lain, meski ada kalanya tidak berhasil karena kedoknya sudah terbongkar. Bisa jadi orang lainlah yang terpaksa menggunakan topeng, berpura-pura simpati padahal sudah muak.

Ada satu teori lagi yang mendukung teori Titanic. Kalau ingin melihat sifat asli manusia, lihatlah perilakunya di jalan raya atau pada saat dalam antrian. Pada situasi itu akan terlihat orang-orang yang dengan entengnya nyelonong, memotong jalur atau giliran orang lain. Mungkin yang merasa ”kena” ada yang berkilah ”Lho, saya ’kan lagi terburu-buru. Wajar kalau motang-motong, sleat sleot di jalan. Kalau jalan biasa kapan sampainya??”. Justru itu. Dari jawaban tadi bisa membuktikan teori Titanic, bukan? Terburu-buru menggambarkan kepanikan. Dalam kepanikan itulah sifat aslinya muncul. Lalu bagaimana dengan pengendara yang memang aslinya ”brengsek” di jalan raya? Ya itulah dirinya. Tanpa topeng, barangkali karena di jalanan tidak ada satupun yang dia kenal. Mungkin akan lain kelakuannya kalau ia berada dalam komunitas yang dia kenal dan orang lain mengenalnya. Di situ akan dia kenakan lagi topengnya, bermanis muka seolah tanpa dosa.

Pada sisi lain bisa terjadi sebaliknya. Aslinya jahat, culas, dengki dan segudang sifat buruk lainnya yang dia tunjukkan dengan perilaku yang membuat orang lain geram. Mangkel. Kemrungsung. Tapi pada saat kepepet baru ia kenakan topengnya. Topeng yang paling baik yang pernah ia punya untuk ia gunakan meraih simpati orang lain.

Kesimpulannya, ada dua jenis orang bertopeng di sekeliling kita. Pertama, mereka yang dalam kondisi normal bertopeng untuk menutupi sifat aslinya. Contohnya? Pikirkan sendiri. Kedua, mereka yang tampil apa adanya, dengan segala perilaku buruknya, dan baru memakai topeng dalam kondisi tidak normal. Contohnya? Pikirkan sendiri juga.

Kesimpulannya lagi, tak satupun di antara kita yang tidak pernah tak bertopeng. Sampeyan, saya dan siapapun yang telah paham betul makna pentingnya bersosialisasi perlu topeng. Yang hatinya masih bersih tak perlu. Siapa mereka? Anak-anak kita yang masih kecil dan polos tentunya. Yang belum punya pikiran untuk menjatuhkan orang lain atau meraih simpati demi kepentingan diri sendiri. Atau kepentingan idealisme tertentu yang kadang bikin muak.

Pernahkah Sampeyan memikirkan, apakah ada bedanya hubungan dengan teman semasa sekolah dulu dengan lingkungan pekerjaan saat ini? Ada suatu perbedaan yang sangat mendasar ternyata. Waktu sekolah dulu rasanya ndak ada itu yang namanya sikut-sikutan. Saling menjatuhkan teman. Justru sebaliknya, saling membantu, bukan? Contek-contekan jawaban ulangan adalah salah satu contohnya. Kalaupun ada yang pelit ngasih contekan, pasti tujuannya bukan supaya temannya dapat nilai jelek, tapi mungkin karena takut ketahuan atau supaya dirinya meraih prestasi terbaik di sekolah. Adakah topeng waktu itu? Rasanya kok tidak. Semuanya berjalan murni, apa adanya. Runtang runtung rame-rame ke sana ke mari, bercanda ria bersama, kadang saling memaki, mencela tapi tidak ada yang sakit hati.

Bagaimana caranya supaya tidak terkecoh oleh topeng orang lain? Masing-masing orang pasti punya kiat sendiri-sendiri. Bisa jadi dengan cara menutup diri, sedapat mungkin menghindari interaksi dengan orang lain. Atau sedapat mungkin tidak terlalu bloko suto tentang dirinya dan apapun yang menyangkut dirinya yang bisa dijadikan senjata oleh orang lain untuk menyikutnya.

Apapun itu, yang penting kita tetap menjadi diri kita yang sebaik-baiknya, yang mempunyai simpanan topeng-topeng baik untuk kebaikan bersama dan sedapat mungkin tidak menghakimi orang lain atas perilaku buruknya dengan hanya mengedepankan idealisme yang kita anggap lebih baik daripada yang lain. 




Friday, June 17, 2011

Mereka yang Tak Sengaja Populer

Banyak orang di dunia melakukan berbagai cara untuk meraih popularitas, karena popularitas diyakini berbanding lurus dengan gemuknya pundi-pundi uang.

Meski demikian, yang namanya rezeki, walau dikejar sampai cucuran keringat terakhir habis, bila Tuhan tak mengijinkan, maka rezeki tak akan jatuh ke pangkuan kita. Apalagi jika rezeki itu dicari dengan cara-cara tak halal atau menghalalkan segala cara.

Namun, ada juga yang mendadak jadi populer bukan atas kemauannya sendiri alias tanpa sengaja, dan rezeki pun mengalir deras. Atau sebaliknya, rezeki diperoleh duluan, dan popularitasnya justru berdampak menjauhinya.

Berikut ini beberapa orang Indonesia yang mendadak populer tanpa sengaja atau diharapkannya yang berhasil dihimpun oleh MP2. Sosok-sosok yang bisa disebut "zero to hero" atau "zero to nero" (ini istilah saya sendiri sebagai padanan "zero to hero" namun dalam arti negatif). Mereka adalah :

Ponari

Bocah SD asal Jombang ini mendadak populer berkat batu ajaibnya yang diyakini mampu menyembuhkan berbagai penyakit. 

Batu "ajaib" yang diperoleh setelah ia melihat petir menyambar batu di dekat rumahnya itu telah menghipnotis puluhan ribu orang dari berbagai daerah dengan harapan bisa sembuh dari penyakit yang dideritanya. Caranya, Ponari mencelupkan batu ke dalam wadah yang dibawa oleh pasien. Begitu banyaknya orang yang harus dilayani, hingga Ponari harus digendong berkeliling untuk mencelupkan batunya.

Berdasarkan analisa seorang arkeolog UI, batu petir Ponari diperkirakan sebuah peralatan batu prasejarah periode Neolitikum.

Di masa kejayaannya tahun 2009 lalu ia mampu meraup berkah hingga Rp. 1 Milyar yang dikutip dari pasien-pasiennya secara sukarela. Belakangan polisi terpaksa menutup tempat praktik si dukun cilik karena dua pasiennya tewas kelelahan saat mengantre.

Meski tidak sepopuler dulu dan sudah dinyatakan ditutup, tapi masih saja orang yang datang untuk mendapatkan pelayanan Ponari.

Demikian populernya Ponari kala itu hingga menarik minat beberapa orang untuk menuangkan ide kreatifnya, salah satunya adalah memelesetkan salah satu merek minuman suplemen. Ini karya-karya kreatif itu :


Prita Mulyasari

Siapa yang tidak tahu Prita Mulyasari? Ibu 2 anak ini populer lantaran persengketaan dirinya dengan sebuah rumah sakit swasta bertaraf internasional di Tangerang tahun 2009 lalu. Bahkan presiden SBY pun turut memberikan perhatian atas kasus itu.

Kasus hukum yang berawal dari curhatnya kepada teman-temannya via e-mail akibat buruknya pelayanan rumah sakit yang dialaminya tersebut, tanpa diketahui asal-usulnya, merebak ke seantero negeri hingga membuat pihak rumah sakit berang dan menyeretnya ke meja hijau.

Masyarakat yang merasakan adanya ketimpangan keadilan pada kasus Prita pun tak tinggal diam. Berbagai dukungan terhadap Prita mengalir, baik melalui dunia maya (facebook) maupun dalam bentuk pengumpulan koin untuk membayar ganti rugi yang dituntut oleh rumah sakit tersebut.
Meski bukan dalam bentuk finansial, namun besarnya dukungan dari masyarakat merupakan rezeki tak terhingga bagi Prita Mulyasari. Ini beberapa poster/ iklan dukungan terhadap Prita :


Gayus Tambunan

Barangkali tak pernah sedikitpun terbersit dalam benak Gayus untuk menjadi populer sebagaimana yang layaknya selebriti. Baginya yang penting menumpuk harta demi memenuhi rasa hausnya akan materi, meski caranya tidak terpuji.

Begitu kasus yang membelitnya terungkap, pria yang bernama lengkap Gayus Halomoan Tambunan ini jadi lebih selebriti daripada selebriti itu sendiri. Berbagai media cetak dan elektronik, dalam dan luar negeri, menampilkan dirinya hingga berhari-hari dalam kurun waktu tahun 2010 dan layak saya masukkan di sini.

Gayus yang pegawai negeri sipil golongan III A di sebuah kantor pajak di Jakarta didakwa atas tuduhan korupsi dan penggelapan dana pajak masyarakat senilai hingga Rp. 25 Miliar. Atas dakwaan penggelapan itu Gayus divonis 1 tahun penjara.

Sebagai bentuk kekesalan atas ulah Gayus, sejumlah orang melakukan rekayasa foto-foto Gayus menjadi karya yang unik dan mengundang senyum. Bahkan ia dibuat nyelip di antara rombongan presiden SBY yang tengah menyaksikan pertandingan final sepak bola piala AFF 2010 :


Malinda Dee

Wanita cantik yang menonjol di awal 2011 ini memang layak ditonjolkan di sini. Selain karena kepiawaiannya membobol dana nasabah Citibank sebesar Rp. 17 Milyar, ia memiliki asset pribadi yang lumayan menonjol hingga membuat mabuk kepayang kaum pria hidung besar belang.

Walhasil, wanita bernama asli Inong Malinda ini mendadak jadi buah bibir di mana-mana. Berbagai situs, blog maupun grup blackberry, di samping media massa tentunya, berlomba-lomba menampilkan foto-fotonya yang seksi. Kasus pembobolannya sendiri nyaris tak terdengar, kalah gaungnya dengan asset berharga miliknya.

Belakangan diberitakan, asset tersebut bermasalah, sehingga perlu perawatan medis yang kemudian menimbulkan kontroversi, karena pihak kepolisian akan menggunakan fasilitas jamkesmas untuk membenahi asset Malinda Dee. Jamkesmas sendiri sejatinya diperuntukkan bagi masyarakat kurang mampu. Lagi-lagi, kasusnya tenggelam oleh asset yang menonjol itu.

Berikut ini beberapa foto MD yang menghebohkan sekaligus mendebarkan :


Ada juga yang iseng membuat seperti ini :


Briptu Norman Kamaru


Anggota Brimob dari Gorontalo ini meraup popularitas sekaligus rezeki tak terduga berkat video lipsync-nya menyanyikan lagu Chaiyya Chaiyya, yang dipopulerkan oleh artis Bollywood, Shakrukh Khan, dengan gaya kocak menirukan gaya sang artis (walau baginya itu biasa). Tak terduga karena video yang direkam dengan kamera ponsel itu diam-diam diunggah ke YouTube oleh seorang temannya.

Hanya dalam kurun waktu 2 minggu sejak diunggah, kepopulerannya melesat dan membuat heboh. Jauh lebih heboh dari Jojo-Shinta yang lebih dahulu populer lewat media yang sama. Juga Udin Sedunia.

Hampir semua stasiun TV di Indonesia mengundangnya untuk tampil dan pastinya, mendapuknya untuk menyanyikan Chaiyya Chaiyya. Kapolri sebagai atasan tertingginya pun tergelitik untuk menanggapnya. Saat diarak di jalanan ia disambut bak selebriti ternama. Masyarakat mengelu-elukannya di mana pun dia berada. Luar biasa!

Kini, walau kepopulerannya pudar, tapi Briptu Norman Kamaru telah meraup rezeki melimpah, buah dari bakat yang dimiliknya. Jika Anda belum menyaksikan video rezeki Norman, silakan lihat di sini :


M. Nazaruddin

Media massa akhir-akhir ini sibuk meliput kader Partai Demokrat, M. Nazaruddin, tak kalah sibuk dengan instansi terkait yang menangani kasusnya.

Betapa tidak. Setelah mencuatnya dugaan suap Sesmenpora terkait pembangunan wisma atlit SEA Games di Palembang, M Nazaruddin tiba-tiba sakit dan harus berobat di Singapura. Upaya memulangkan dirinya ke Indonesia yang hingga kini masih belum membuahkan hasil membuat namanya makin berkibar. Bahkan, Partai Demokrat tempat ia bernaung pun tak kuasa berbuat banyak untuk menghadirkan dirinya sebagai saksi di KPK.

Kekukuhannya bertahan di Singapura memunculkan berbagai spekulasi yang membuatnya makin tersudut. Istrinya pun akhirnya juga harus berurusan dengan hukum karena dugaan kasus serupa di Jember, Jawa Timur.

Berita terakhir di Metro TV, M. Nazaruddin membantah jika dirinya adalah oknum dalam kasus suap Sesmenpora. Ia menuding beberapa rekan separtainya yang terlibat. Salah satunya adalah Angelina Sondakh, istri alm. Adjie Massaid.

Apapun yang terjadi, ia sudah terlanjur populer.

Alifah Ahmad Maulana & Ny. Siami

Ibu-anak warga Surabaya kini bisa sedikit bernafas lega. Semenjak kasus contek massal diungkapnya, Siami, ibunda Alifah Ahmad Maulana (AAM), murid SDN Gadel II yang ditugasi oleh gurunya untuk memberikan contekan kepada teman-teman sekelasnya saat menghadapi ujian nasional (unas), harus mengungsi bersama keluarganya ke Gresik karena dimusuhi, dikucilkan, bahkan diusir oleh warga yang notabene teman-teman dan tetangganya sendiri.

Meski masih menjadi polemik mengenai benar tidaknya contek massal tersebut, Siami dan AAM mendapatkan pujian dan dukungan dari berbagai pihak, termasuk tokoh-tokoh terkemuka seperti Wakil Ketua DPR Pramono Anung, anggota Komisi II DPR Ramadhan Pohan, sosiolog Imam B. Prasodjo, pengacara Todung Mulya Lubis, dan lain-lain atas kejujurannya yang berbuah pahit itu. Bahkan salah satu instansi memberi gelar AAM sebagai pahlawan kejujuran.

Di lain pihak, baik Walikota Surabaya maupun Mendiknas, membantah keras adanya kasus contek massal di wilayah kerjanya. Hal ini berdasarkan evaluasi atas hasil unas para siswa yang menunjukkan tidak adanya jawaban yang seragam.

Pernyataan Mendiknas menuai kecaman dari Ketua Komnas Perlindungan Anak (PA), Arist Merdeka Sirait. Ia menuding Mendiknas telah mengkriminalisasi AAM karena secara tidak langsung ia mengklaim kalau AAM bohong.

Itulah tadi orang-orang yang tanpa sengaja meraih popularitas tanpa mereka pernah memimpikannya. Mana yang "zero to hero" mana yang "zero to nero", silakan Anda tentukan sendiri. (mp2)

Foto-foto dari berbagai sumber.



Wednesday, June 15, 2011

Misteri Suara Suara Riuh di Tengah Malam


Masih berkaitan dengan suara-suara misterius, ada satu kejadian lain yang hingga kini tak dapat saya lupakan.

Pintu masuk ke kompleks PT. PAL INDONESIA

Sejak akhir tahun 1993 saya bekerja di Departemen Personalia PT. PAL Indonesia, sebuah BUMNIS (Badan Usaha Milik Negara Industri Strategis) yang berlokasi di kawasan Tanjung Perak, Surabaya. Di PT. PAL ini masih banyak gedung-gedung tua, bahkan ada bangunan yang didirikan tahun 1892.

Bangunan peninggalan Belanda buatan tahun 1892 (lingkaran merah)
di dalam kompleks PT. PAL.

Saat itu saya masih beberapa bulan bekerja di perusahaan yang bergerak di bidang pembangunan kapal-kapal niaga dan kapal perang. Suatu sore, Manajer saya mengajak untuk menghadiri rapat di kantor manajemen PT. PAL yang berjarak sekitar 100 meter dari kantor saya. Sudah jadi kebiasaan di sana, bila menggelar rapat sore, pasti pulangnya hampir tengah malam. Walaupun dengan berat hati, sebagai staf yang masih baru, saya manut saja. Bagaimanapun juga, itu adalah proses pembelajaran bagi saya untuk lebih mengenal seluk-beluk pekerjaan di PT. PAL, sekaligus berinteraksi dengan karyawan dari bagian lain.

Benar saja. Hingga jam 10 malam lebih belum ada tanda-tanda rapat bubar. Bahkan makin seru. Saat itulah manajer saya memerintahkan untuk mengambil materi rapat dari meja kerja salah seorang Kepala Bironya, yang kebetulan berkantor satu ruangan dengan saya, dan saat itu tidak ikut rapat.

Jalan menuju kantor Departemen Personalia hanya dihiasi cahaya remang-remang dan harus melalui sebuah gudang tua yang letaknya berseberangan dengan ruang kantor saya. Saya tidak punya pikiran apa-apa, selain rasa kesal yang menggumpal di dada.

Saat “menggeledah” laci meja sang Kepala Biro yang letaknya membelakangi jendela itulah saya mendengar suara riuh, seperti suasana di pasar. Secara reflek saya membuka nako jendela dan mengintip keluar. Astaga, ternyata di luar sangat gelap dan sepi! Tak ada seorangpun di sana.

Dengan bulu kuduk meremang, saya tutup kembali kaca nako dan melanjutkan pencarian materi rapat. Lagi-lagi suara keramaian itu terdengar lagi. Dengan membaca doa-doa sebisanya, saya tenangkan diri dan materi rapat bisa saya temukan, terselip di antara berkas-berkas yang ada di dalam laci.

Lingkaran merah menunjukkan pintu ruang kerja saya.

Keesokan harinya, saya ceritakan pengalaman saya itu ke teman-teman kantor. Sebagai informasi, di PT. PAL ada dua status karyawan, yaitu PNS yang merupakan perbantuan dari TNI-AL dan karyawan murni yang langsung di rekrut oleh PT. PAL. Semua karyawan yang berstatus PNS sudah bekerja di sana sejak sebelum PT. PAL dibentuk oleh BJ. Habibie tahun 1980.

Dari karyawan yang berstatus PNS itulah saya baru mengetahui, bahwa PT. PAL menyimpan banyak misteri berupa kejadian-kejadian gaib. Yang saya alami adalah salah satunya. Diceritakan, bahwa Departemen Personalia dulunya adalah rumah sakit dan ruangan yang saya tempati ada bekas ruang memandikan jenazah!

Keanehan lain

Beberapa minggu kemudian, terjadi keanehan lagi. Siang itu saya baru datang dari ruang komputer dan saat hendak masuk ke ruangan saya, salah seorang PNS wanita menghampiri saya.
“Lho, bapak dari mana?” tanyanya. Saya jawab, “Dari ruang komputer. Kenapa, Bu?”
“Saya baru saja lihat bapak masuk ke ruangan, kok masuk lagi?” katanya, yang membuat saya penasaran.
“Sejak pagi saya di ruang komputer, bu. Baru sekarang ini saya kembali”.
“Ah, bapak jangan bercanda. Saya betul-betul melihat kalau bapak masuk ke situ”, katanya sambil menunjuk pintu ruang kerja saya yang letaknya bersebelahan dengan ruang kerjanya.
“Pak Agus mungkin, bu”, sanggah saya. Pak Agus adalah Kepala Biro yang satu ruang dengan saya.
“Saya ini sudah tua, tapi mata saya masih bisa melihat dengan baik, pak”, ujarnya dengan nada meninggi.

Belum lagi saya menjawab, ibu itu melongok ke ruang kerja saya. Dan memang tidak ada siapa-siapa di sana. Si ibu PNS tetap bersikeras, bahwa ia melihat saya masuk ke ruang itu sementara saya ngotot kalau saya baru saat itu masuk ke sana setelah setengah hari berkutat dengan data-data di ruang komputer.

Beberapa saat kemudian pak Agus datang dan langsung dikonfirmasi keberadaannya pada jam si ibu melihat “saya”. Pak Agus pun menjawab bahwa sejak pagi ia berada di ruang lain yang AC-nya masih berfungsi normal, karena tidak betah berlama-lama di ruangannya sendiri yang gerah akibat AC tua yang hanya menyemburkan angin belaka.

Nah, kalau itu bukan saya, juga bukan pak Agus, lalu siapa?

Dengan adanya kejadian itu, topik mengenai “keangkeran” tempat itu sedikit demi sedikit makin terkuak. Ini di antaranya :

Orang Tua Misterius

Suatu ketika, ada salah seorang teman kantor saya yang datang kepagian karena harus mengantar anaknya yang mengikuti ospek dan harus hadir pagi-pagi. Karena rumahnya jauh, ia memutuskan untuk langsung meluncur ke kantor.

Karena suasana masih sepi, diapun jalan-jalan di halaman sekitar kantor sambil meresapi nikmatnya rokok. Tiba-tiba datang seorang laki-laki tua berpakaian agak kumal menghampirinya untuk minta api. Setelah berbasa-basi sejenak, orang tua itu beranjak dari tempatnya dan masuk ke kantor Departemen Personalia.

Halaman depan kantor Departemen Personalia tempat kemunculan
orang tua misterius.

Hal ini membuat teman saya curiga dan khawatir orang tua itu akan memanfaatkan situasi sepinya kantor untuk melakukan tindak kejahatan. Mencuri misalnya. Maka diam-diam teman saya mengikutinya. Tapi ia keheranan karena di dalam kantor tak dijumpai siapapun. Ia kelilingi ruang demi ruang, tapi orang yang dicurigainya hilang bak ditelan bumi!

Penampakan Nonik Belanda

Misteri berikutnya dialami salah seorang cleaning service. Jam sudah menunjukkan hampir maghrib, tapi ia masih berada di kantor karena diminta oleh manajer saya untuk menemaninya menyelesaikan tugas-tugas kantor. Sambil menunggu, sang cleaning service menyibukkan diri dengan membersihkan beberapa ruang.

Tiba-tiba ia masuk ke ruang kerja manajer dengan wajah ketakutan. Menurut penuturannya, ia melihat seorang wanita bule berpakaian putih berjalan dekat sumur yang ada di kantor tersebut, lalu menghilang!

Tanda lingkaran merah adalah lokasi sumur tempat kerap munculnya
penampakan "Nonik Belanda".

Berdasarkan cerita dari berbagai sumber, lokasi sekitar sumur memang tempat paling angker. Bahkan, satpam yang mendapat giliran ronda malam memilih untuk menjauhi tempat itu, karena di situ sering terlihat sosok misterius seperti yang dilihat oleh sang cleaning service.

Misteri Pintu Digedor

Oh ya, satu kejadian lagi yang saya alami sendiri berkaitan dengan misteri di kantor saya.

Suatu ketika, beberapa tahun setelah kejadian suara riuh, saya mendapat tugas untuk menyiapkan backdrop untuk acara ulang tahun perusahaan. Karena waktu itu belum ada cetak digital ukuran super besar, maka proses pengerjaannya saya kerjakan secara manual, dibantu salah seorang teman kantor dari bagian Diklat. Mengerjakannya pun selepas jam kerja.

Saat waktu menunjukkan jam 11 malam, saya putuskan untuk mengakhiri pekerjaan itu dan dilanjutkan keesokan harinya. Saya berada di ruang kerja saya untuk berbenah, sementara teman saya di ruangannya sendiri yang berjarak sekitar 20 meter. Saat itulah saya mendengar suara salah satu pintu (dalam keadaan terkunci) dekat ruangan saya ditarik-tarik paksa dengan sangat keras hingga menimbulkan suara berisik, seperti digedor. Saya yang sudah selesai berbenah dan hendak mematikan lampu segera keluar untuk melihat siapa yang berulah malam-malam begini. Saya kira teman saya, tapi ternyata tidak ada siapapun di situ! Setengah berlari, saya pun menyusul ke kantor teman saya yang ternyata baru selesai mandi.

Pintu bertanda lingkaran merah inilah yang saya duga digedor secara misterius.
Saya berada di dalam ruangan yang berjarak 2 ruangan dari pintu tersebut
(tanda panah).

Sejak Maret 2010 lalu saya resign dari PT. PAL, tapi kejadian-kejadian misterius itu masih melekat kuat di benak saya. (mp2)



Misteri Suara Gamelan di Tengah Malam



“Di Jogja, siapa pun yang pernah mendengar alunan suara gamelan di tengah malam, akan betah tinggal di kota pendidikan itu”.

Itu yang diucapkan seorang kerabat teman saya (mas Edy namanya) saat saya berkunjung dan menginap di rumahnya di daerah Wirobrajan, Jogja, 23 tahun yang lalu. Itu adalah kedatangan saya untuk pertama kalinya di kota yang dijuluki kota gudeg. Katanya, mitos itu, atau apapun namanya, ia dapatkan saat ia masih kecil Dan katanya lagi, konon hanya orang-orang dari luar Jogja yang kebetulan berada di sana yang berpeluang “diusik” oleh alunan alat musik tradisional itu.

Satu tahun kemudian, tepatnya tahun 1983, saya menjadi warga sementara Jogja, untuk menempuh pendidikan di UPN Veteran, setelah gagal masuk ke perguruan tinggi negeri di Surabaya.


Awal mula menetap di Jogja, saya kos di Jalan Solo Km. 7, yang lokasinya berdekatan dengan kampus UPN di Babarsari, berseberangan dengan rumah dinas TNI-AU. Kos yang berada di pinggir jalan raya itu tergolong masih baru. Ada sekitar 10 kamar, dan kebanyakan masih kosong saat saya pertama masuk. Di kamar kos bertarip Rp. 25.000,- per bulan itu saya tinggal berdua dengan teman satu jurusan berasal dari Madiun di UPN. Dia berasal dari Madiun.

Saya dan teman-teman sepulang refreshing di Wonosobo (1984)
di halaman kos Jl. Solo Km 7 Jogja

Suatu ketika, hampir tengah malam, suasana kos sepi. Teman sekamar saya sudah tidur, tapi entah kenapa mata saya sulit terpejam. Saat itulah lamat-lamat saya mendengar alunan suara gamelan di kejauhan. Saya pikir itu berasal dari suara radio atau ada seseorang yang mengadakan acara selamatan dengan menggelar musik tradisional itu.

Beberapa malam kemudian, kembali saya dengar suara gamelan itu. Karena penasaran, saya keluar kamar, memusatkan konsentrasi pada telinga saya agar lebih jelas dari mana asal suara gamelan itu. Dari situ saya yakin kalau suara gamelan itu berasal dari seberang kos saya. Seberang tapi jauh. Ke arah selatan.

Saya jadi teringat ingat pada ucapan mas Edy setahun yang lalu.

Apakah suara gamelan yang saya dengar ada hubungannya dengan mitos itu?

Jujur saja, saya memang betah di Jogja. Hanya saja, apakah itu karena “kutukan” suara gamelan telah merasuki saya, atau Jogja memang kota yang menyenangkan, seperti yang baru-baru ini dilansir oleh sebuah badan survey, yang menyatakan bahwa Jogja adalah kota ternyaman di Indonesia, saya tidak tahu.

Yang jelas, kerinduan saya untuk kembali ke Jogja tak pernah surut. (mp2)



Tuesday, June 7, 2011

Ungkapan/ Perumpamaan yang Sering Kita Dengar

Dalam kehidupan sehari-hari kita biasa mendengar ungkapan atau perumpamaan yang maksudnya untuk menggambarkan suatu keadaan.

Di sini saya akan ulas beberapa ungkapan/ perumpamaan yang akrab di telinga kita, antara lain :

Seperti anjing dengan kucing

Ungkapan ini ditujukan kepada dua orang yang tidak pernah akur dalam segala hal. Bila bertemu selalu berselisih.

Yang jadi pertanyaan, kenapa anjing dan kucing yang dijadikan perumpamaan? Kenapa bukan kucing dan tikus? Atau gajah dan macan?

Jawabannya gampang. Karena anjing dan kucing adalah hewan yang biasa kita jumpai, dan kalau mereka bertemu selalu ribut. Tikus memang juga biasa kita lihat, tapi tikus tidak pernah berani melawan kucing. Sedangkan gajah dan macan hanya kita temui di kebun binatang atau TV. Itupun tidak pernah terlihat mereka berantem.

Laksana langit dan bumi

Perumpamaan ini biasanya secara salah kaprah dan membabibuta diungkapkan untuk menggambarkan dua sifat yang bertolak belakang. Satu baik, satunya lagi sadis,misalnya. Atau si A cantik, sedangkan si B jelek.

Yang benar adalah, bahwa perumpamaan itu dimaksudkan sebagai personifikasi dari dua pribadi yang tidak mungkin menyatu karena adanya perbedaan sifat mereka.

Padahal kalau di pantai kita lihat langit menyatu dengan bumi, lho!

Membabibuta

Membabibuta artinya bertindak ngawur, tidak pakai perhitungan. Sruduk sana sruduk sini, urusan belakangan.

Cuma kenapa dipakai babi? Padahal hewan lain, kalau buta, akan melakukan hal yang sama. Dan hewan yang cocok untuk “dikorbankan” dalam perumpamaan ini adalah babi hutan, yang pada dasarnya memang liar dan ganas. Apalagi kalau pas buta.

Mungkin dulunya membabihutanbuta, kali ya? Karena terlalu panjang, maka diringkas jadi membabibuta. Lagipula kalau membabihutan buta, nanti disalahtafsirkan dengan hutannya yang buta. Hutan mana punya mata?

Bagai pinang dibelah dua

Inti dari ungkapan ini adalah, bahwa kondisi fisik si A dan si B sama/ nyaris sama, persis seperti orang kembar, tapi bukan orang kembar. Nah, bingung ‘kan? Lebih bingung lagi, kenapa digunakan buah pinang, bukan apel atau semangka?

Mungkinkah yang membuat perumpamaan ini orang kuper, yang tahunya hanya buah pinang, sementara di luar sana banyak buah simetris lainnya yang lebih enak?

Bagai pungguk merindukan bulan

Entah siapa yang mengarang pepatah ini. Pungguk, konon adalah burung sejenis gagak, yang jelas-jelas hewan, kok bisa-bisanya dia merindukan bulan? Bukan cuma beda spesies, tapi juga beda status. Pungguk itu makhluk hidup, sedangkan bulan benda mati.

Kecuali kalau bulan sudah update status jadi makhluk hidup juga, bolehlah si pungguk itu merindukannya, walaupun si bulan harus pikir-pikir dulu untuk menerima pungguk.

Dari perumpamaan inilah yang mengilhami dibuatnya film kungfu Panda. Seperti kita ketahui, Po si panda adalah anak dari seekor itik yang menikah dengan babi. Nah, lo!! Ruwet, kan.

Muka badak

Kasihan si badak. Nggak salah apa-apa, nggak tahu urusannya apa, kok ndilalah dipakai untuk mewakili orang yang nggak tahu malu. Dasar, yang bikin perumpamaan itu memang bermuka badak. Ups, sori ya, dak.

Tak tentu rimbanya

Orang yang hilang dan tak ada kabar beritanya disebut hilang tak tentu rimbanya. Kenapa demikian? Karena yang mengarang ungkapan ini orang yang tinggal di hutan, atau dekat hutan, karena tahunya tentang rimba saja. Apa mungkin Tarzan atau George of the Jungle yang menciptakan?

Kalau orang kota yang ngarang pasti bunyinya “hilang tak tentu gedungnya” atau kalau nelayan yang ngarang akan berbunyi “hilang tak tentu lautnya”.

Seperti makan buah simalakama

Ini perumpamaan yang perlu melibatkan psikolog untuk menjelaskan buah simalakama itu seperti apa, baru bisa dibahas lebih lanjut. Betapa tidak, buah ini sedemikian jahatnya sehingga kalau dimakan berakibat bapak kita mati, kalau tidak dimakan, ibu kita yang mati. Ini pastilah buah yang mengalami kelainan psikis.

Bagai telur di ujung tanduk

Nah, ini jenis perumpamaan yang membutuhkan imajinasi tinggi, hingga sampai ketemu tanduk untuk dikombinasikan dengan telur.

Secara logika, telur utuh tidak mungkin bisa ngendon di ujung tanduk. Tapi nyatanya si pembuat perumpamaan punya pendapat lain. Telurnya ditaruh di lantai, lalu disundul-sundul pakai tanduk. Kenapa tanduk? Karena si pembuat perumpamaan ternyata mantan seorang matador yang trauma akibat telurnya pernah diseruduk banteng. Maksudnya telur ayam titipan dari istrinya untuk dijual ke pasar, lho. (mp2)

Monday, June 6, 2011

Yang Menyebalkan dari Acara Super X-tion di Trans TV

Acara yang tergolong baru di Trans TV dan cukup menarik perhatian adalah Super X-tion setiap Minggu malam. Meski jamnya tidak pasti karena lomba yang digelar outdoor ini sangat bergantung pada cuaca di lokasi lomba, tapi sayang untuk dilewatkan. Persiapannya pun tidak main-main. Berbagai alat berat dilibatkan sebagai penunjang utama aksi peserta.

Sayangnya, segala persiapan yang luar biasa itu kerap jadi kehilangan makna karena presenter dan komentator yang tampaknya kurang mampu menyajikan dengan baik.

Presenter yang cantik itu sering kedodoran saat membawakan acara. Mungkin karena ada tuntutan dari sang sutradara atau produser agar ia bicara dengan cepat, sehingga berakibat sering "selip lidah". Memang tak mudah bicara dengan intonasi tinggi dan cepat di ruang terbuka dan pasti ramai itu.

Yang menyebalkan justru komentatornya. Pada sebuah sesi lomba di mana peserta harus bergerak cepat menyeberangi tali yang dibentangkan di atas gedung, ada peserta yang jelas-jelas mengalami kesulitan dengan perangkat pengaman keselamatannya, tapi sang komentator tidak tanggap. Mereka justru terus saja bicara tentang lambannya sang peserta menyelesaikan lomba. Masalah itu baru diketahui setelah sang peserta, dengan susah payah, berhasil mencapai tujuan dan mengajukan komplain. Alhasil, dia pun diberi kesempatan untuk mengulang.

Di sesi lomba terakhir Minggu lalu (05/06) pun saya kesal lagi. Peserta harus melompat dari tempat ke tempat lain di ketinggian untuk mengambil bendera mengalami kesulitan, yang tampaknya disebabkan oleh pendeknya tali pengaman yang dikenakan peserta. Ini terlihat dari tiga/ empat pasangan peserta pertama yang hampir seluruhnya gagal karena lompatannya terhambat tali pengamannya sendiri. Di sini, satu peserta (seorang wanita yang berprofesi penjahit) beruntung berhasil meraih 1 bendera.

Peserta berikutnya ternyata cukup cerdik menyiasati kesulitan yang dialami pesaing-pesaing sebelumnya. Ia (seorang pejudo wanita) memanfaatkan tali pengamannya untuk menahan tubuhnya hingga berhasil menyeberang. Dengan cara ini dia berhasil meraih 6 bendera. Cara itulah yang kemudian ditiru oleh peserta lain, sehingga terlihat perbedaan mencolok antara skor peserta sebelumnya dengan skor peserta judo dan peserta lain setelahnya.

Memasuki babak final, hanya 4 dari 5 peserta yang berhasil mendapatkan bendera yang berhak masuk final. Sang wanita penjahit harus menyingkir karena hanya mendapat 1 bendera.

Di final ini, panitia kemudian menerapkan aturan dadakan, yaitu peserta tidak boleh bergantung pada tali pengaman! Dengan aturan ini, 3 peserta tak mendapatkan 1 bendera pun (termasuk sang pejudo), dan sang juara hanya mendapat 1 bendera.

Sulit membayangkan, betapa kecewanya sang penjahit diperlakukan secara tidak fair dalam Super X-tion ini. Dan panitia tampaknya tidak peduli sama sekali akan hal itu, padahal jelas terlihat bahwa mereka telah berlaku tidak adil.

Semoga saja, di lomba-lomba berikutnya tidak terjadi lagi seperti itu. (mp2)


Blog Archive