Showing posts with label Misteri. Show all posts
Showing posts with label Misteri. Show all posts

Thursday, June 16, 2011

Misteri Pembuatan Candi Borobudur




Candi Borobudur adalah candi terbesar peninggalan Abad ke 9. Candi ini terlihat begitu impresif dan kokoh sehingga terkenal seantero dunia. Peninggalan sejarah yang bernilai tinggi ini sempat menjadi salah satu dari tujuh keajaiban dunia. Namun tahukah Anda bahwa seperti halnya pada bangunan purbakala yang lain, Candi Borobudur tak luput dari misteri mengenai cara pembuatannya? 

Misteri ini banyak melahirkan pendapat yang spekulatif hingga kontroversi. Dengan beberapa catatan dan referensi yang terbatas, saya coba menganalisis dan sedikit menguak tabir misteri pembuatan candi ini yang ternyata tidak perlu di-misteri-kan!…

Design Candi

Candi Borobudur memiliki struktur dasar punden berundak, dengan enam pelataran berbentuk bujur sangkar, tiga pelataran berbentuk bundar melingkar dan sebuah stupa utama sebagai puncaknya. Selain itu tersebar di semua pelatarannya beberapa stupa. 

Candi Borobudur didirikan di atas sebuah bukit atau deretan bukit-bukit kecil yang memanjang dengan arah Barat-Barat Daya dan Timur-Tenggara dengan ukuran panjang ± 123 m, lebar ± 123 m dan tinggi ± 34.5 m diukur dari permukaan tanah datar di sekitarnya dengan puncak bukit yang rata.

 

Candi Borobudur merupakan tumpukan  batu yang diletakkan di atas gundukan tanah sebagai intinya, sehingga bukan merupakan tumpukan batuan yang masif. Inti tanah juga sengaja dibuat berundak-undak dan bagian atasnya diratakan untuk meletakkan batuan candi (Sampurno, 1966).

 

Candi Borobudur juga terlihat cukup kompleks dilihat dari bagian-bagian yang dibangun. Terdiri dari 10 tingkat dimana tingkat 1-6 berbentuk persegi dan sisanya bundar. Dinding candi dipenuhi oleh gambar relief sebanyak 1460 panel. Terdapat 504 arca yang melengkapi candi.

Material Penyusun Candi

Inti tanah yang berfungsi sebagai tanah dasar atau tanah pondasi Candi Borobudur dibagi menjadi 2, yaitu tanah urug dan tanah asli pembentuk bukit. Tanah urug adalah tanah yang sengaja dibuat untuk tujuan pembangunan Candi Borobudur, disesuaikan dengan  bentuk bangunan candi. Menurut Sampurno Tanah ini ditambahkan di atas tanah asli  sebagai pengisi dan pembentuk morfologi bangunan candi. Tanah urug ini sudah dibuat oleh pendiri Candi Borobudur, bukan merupakan hasil pekerjaan restorasi. Ketebalan tanah urug ini tidak seragam walaupun terletak pada lantai yang sama, yaitu antara 0,5-8,5 m.


Batuan penyusun Candi Borobudur berjenis  andesit  dengan porositas yang tinggi, kadar porinya sekitar 32%-46%, dan antara lubang pori satu dengan yang lain tidak berhubungan. Kuat tekannya tergolong rendah jika dibandingkan dengan kuat tekan batuan sejenis. Dari hasil penelitian Sampurno (1969), diperoleh kuat tekan minimum sebesar 111 kg/cm2 dan kuat tekan maksimum sebesar 281 kg/cm2. Berat volume batuan antara 1,6-2 t/m3.

Misteri Cara Membangun Candi

Data mengenai candi ini baik dari sisi design, sejarah, dan falsafah bangunan begitu banyak tersedia. Banyak ahli sejarah dan bangunan purbakala menulis mengenai keistimewaan candi ini. Namun menyisakan misteri tentang bagaimana candi ini dibangun.

Hasil penelusuran data baik di buku maupun internet, tidak ada satupun yang sedikit mengungkapkan mengenai misteri cara pembangunan candi. Satu-satunya informasi adalah tulisan mengenai sosok Edward Leedskalnin yang aneh dan misterius. 

Dia mengatakan, “Saya telah menemukan rahasia-rahasia piramida dan bagaimana cara orang Mesir purba, Peru, Yucatan dan Asia (Candi Borobudur) mengangkat batu yang beratnya berton-ton hanya dengan peralatan yang primitif.”

Edward adalah orang yang membangun Coral Castle yang terkenal. Beberapa orang lalu memperkirakan bagaimana cara kerja dia untuk mengungkap misteri tentang pengetahuan dia bagaimana bangunan purba dibangun. Berikut pendapat beberapa orang dan ahli mengenai cara Edward membangun Coral Castle:
  • Ada yang mengatakan bahwa ia mungkin telah berhasil menemukan rahasia para arsitek masa purba yang membangun monumen seperti piramida dan Stonehenge.
  • Ada yang mengatakan mungkin Edward menggunakan semacam peralatan anti gravitasi untuk membangun Coral Castle.
  • David Hatcher Childress, penulis buku Anty Gravity and The World Grid, memiliki teori yang menarik. Menurutnya wilayah Florida Selatan yang menjadi lokasi Coral Castle memiliki diamagnetik kuat yang bisa membuat sebuah objek melayang. Apalagi wilayah Florida selatan masih dianggap sebagai bagian dari segitiga bermuda. David percaya bahwa Edward Leedskalnin menggunakan prinsip diamagnetik jaring bumi yang memampukannya mengangkat batu besar dengan menggunakan pusat massa. David juga merujuk pada buku catatan Edward yang ditemukan yang memang menunjukkan adanya skema-skema magnetik dan eksperimen listrik di dalamnya. Walaupun pernyataan David berbau sains, namun prinsip-prinsip esoterik masih terlihat jelas di dalamnya.
  • Penulis lain bernama Ray Stoner juga mendukung teori ini. Ia bahkan percaya kalau Edward memindahkan Coral Castle ke Homestead karena ia menyadari adanya kesalahan perhitungan matematika dalam penentuan lokasi Coral Castle. Jadi ia memindahkannya ke wilayah yang memiliki keuntungan dalam segi kekuatan magnetik.
Akhirnya didapat foto yang berhasil diambil pada waktu Edward mengerjakan Coral Castle menunjukkan bahwa ia menggunakan cara yang sama yang digunakan oleh para pekerja modern, yaitu menggunakan prinsip yang disebut block and tackle.

Beda Coral Castle beda pula Candi Borobudur. Coral Castle masih menungkinkan menggunakan Block dan Tackle. Untuk Candi Borobudur rasanya block dan tackle pun masih belum ada. Lalu bagaimana sebenarnya cara membuat Candi ini?. Misteri yang belum terungkap berdasarkan informasi di atas. Saya coba mulai berfikir ulang terlepas dari misteri dengan mencoba menganalisis data-data yang ada.

Ada beberapa aspek yang diperhatikan sebelum memperkirakan bagaimana candi ini dibangun, yaitu:
  • Bentuk bangunan. Candi ini berbentuk tapak persegi ukuran panjang ± 123 m, lebar ± 123 m dan tinggi ± 42 m. Luas 15.129 m2.
  • Volume material utama. Material utama candi ini adalah batuan andesit berporositas tinggi dengan berat jenis 1,6-2,0 t/m3. Diperkirakan terdapat 55.000 m3 batu pembentuk candi atau sekitar 2 juta batuan dengan ukuran batuan berkisar 25 x 10 x 15 cm. Berat per potongan batu sekitar 7,5 – 10 kg.
  • Konstruksi bangunan. Candi Borobudur merupakan tumpukan  batu yang diletakkan di atas gundukan tanah sebagai intinya, sehingga bukan merupakan tumpukan batuan yang masif. Inti tanah juga sengaja dibuat berundak-undak dan bagian atasnya diratakan untuk meletakkan batuan candi.
  • Setiap batu disambung tanpa menggunakan semen atau perekat. Batu-batu ini hanya disambung berdasarkan pola dan ditumpuk
  • Semua batu tersebut diambil dari sungai di sekitar Candi Borobudur.
  • Candi Borobudur merupakan bangunan yang kompleks dilihat dari bagian-bagian yang dibangun. Terdiri dari 10 tingkat dimana tingkat 1-6 berbentuk persegi dan sisanya bundar. Dinding candi dipenuhi oleh gambar relief sebanyak 1460 panel. Terdapat 505 arca yang melengkapi candi
  • Teknologi yang tersedia. Pada saat itu belum ada teknologi angkat dan pemindahan material berat yang memadai. Diperkirakan menggunakan metode mekanik sederhana.
  • Perkiraan jangka waktu pelaksanaan. Tidak ada informasi yang akurat. Namun beberapa sumber menyebutkan bahwa Candi Borobudur dibangun mulai 824 M – 847 M. Ada referensi lain yang menyebut bahwa candi dibangun dari 750 M hingga 842 M atau 92 tahun.
  • Pembangunan candi dilakukan bertahap. Pada awalnya dibangun tata susun bertingkat. Sepertinya dirancang sebagai piramida berundak. tetapi kemudian diubah. Sebagai bukti ada tata susun yang dibongkar. Tahap kedua, pondasi Borobudur diperlebar, ditambah dengan dua undak persegi dan satu undak lingkaran yang langsung diberikan stupa induk besar. Tahap ketiga, undak atas lingkaran dengan stupa induk besar dibongkar dan dihilangkan dan diganti tiga undak lingkaran. Stupa-stupa dibangun pada puncak undak-undak ini dengan satu stupa besar di tengahnya.Tahap keempat, ada perubahan kecil, yakni pembuatan relief perubahan pada tangga dan pembuatan lengkung di atas pintu.
  • Suatu hal yang unik, bahwa candi ini ternyata memiliki arsitektur dengan format menarik atau terstruktur secara matematika. setiap bagain kaki, badan dan kepala candi selalu memiliki perbandingan 4:6:9. Penempatan-penempatan stupanya juga memiliki makna tersendiri, ditambah lagi adanya bagian relief yang diperkirakan berkatian dengan astronomi menjadikan borobudur memang merupakan bukti sejarah yang menarik untuk di amati.
  • Jumlah stupa di tingkat Arupadhatu (stupa puncak tidak di hitung) adalah: 32, 24, 26 yang memiliki perbandingan yang teratur, yaitu 4:3:2, dan semuanya habis dibagi 8. Ukuran tinggi stupa di tiga tingkat tsb. Adalah: 1,9m; 1,8m; masing-masing bebeda 10 cm. Begitu juga diameter dari stupa-stupa tersebut, mempunyai ukuran tepat sama pula dengan tingginya : 1,9m; 1,8m; 1,7m.
  • Beberapa bilangan di borobudur, bila dijumlahkan angka-angkanya akan berakhir menjadi angka 1 kembali. Diduga bahwa itu memang dibuat demikian yang dapat ditafsirkan : angka 1 melambangkan ke-Esaan Sang Adhi Buddha. Jumlah tingkatan Borobudur adalah 10, angka-angka dalam 10 bila dijumlahkan hasilnya : 1 + 0 = 1. Jumlah stupa di Arupadhatu yang didalamnya ada patung-patungnya ada : 32 + 24 + 16 + 1 = 73, angka 73 bila dijumlahkan hasilnya: 10 dan seperti diatas 1 + 0 = 10. Jumlah patung-patung di Borobudur seluruhnya ada 505 buah. Bila angka-angka didalamnya dijumlahkan, hasilnya 5 + 0 + 5 = 10 dan juga seperti diatas 1 + 0 = 1.
Melihat data-data di atas, tentunya masih bersifat perkiraan, saya mencoba memberikan beberapa analisa yang mudah-mudahan dapat dikomentari sebagai usaha kita menguak misteri yang ada sebagai berikut:

1. Dari data yang ada disebutkan bahwa ukuran batu candi adalah sekitar 25 x 10 x 15 cm dengan berat jenis batu adalah 1,6 – 2 ton/m3, ini berarti berat per potongan batu hanya sekitar maksimum 7.5 kg (untuk berat jenis 2 t/m3). Potongan batu ternyata sangat ringan. Untuk batuan seberat itu, rasanya tidak perlu teknologi apapun. Masalah yang mungkin muncul adalah medan miring yang harus ditempuh. Medan miring secara fisika membuat beban seolah-olah menjadi lebih berat. Hal ini karena penguraian gaya menyebabkan ada beban horizontal sejajar kemiringan yang harus dipikul. Namun dengan melihat kenyataan bahwa berat per potongan batu adalah hanya 7.5 kg, rasanya masalah medan miring yang beundak-undak tidak perlu dipermasalahkan. Kesimpulannya adalah proses pengangkutan potongan batu dapat dilakukan dengan mudah dan tidak perlu teknologi apapun.

2. Sumber material batu diambil dari sungai sekitar candi. Hal ini berarti jarak antara quarry dan site sangat dekat. Walaupun jumlahnya mencapai 2.000.000 potongan, namun ringannya material tiap potong batu dan dekatnya jarak angkut, hal ini berarti proses pengangkutan pun dapat dilakukan dengan mudah tanpa perlu teknologi tertentu.

3. Candi dibangun dalam jangka waktu yang cukup lama. Ada yang mengatakan 23 tahun  ada juga yang mengatakan 92 tahun. Jika berasumsi paling cepat 23 tahun. Mari kita berhitung soal produktifitas pemasangan batu. Jika persiapan lahan dan material awal adalah 2 tahun, maka masa pemasangan batu adalah 21 tahun atau 7665 hari. Terdapat 2 juta potong batu. Produktifitas pemasangan batu adalah 2000000/7665 = 261 batu/hari. Produktifitas ini rasanya sangat kecil. Tidak perlu cara apapun untuk menghasilkan produktifitas yang kecil tersebut. Apalagi menggunakan data durasi pelaksanaan yang lebih lama.

4. Lamanya proses pembuatan candi dapat disebabkan ada perubahan-perubahan design yang dilakukan selama pelaksanaannya. Hal ini mungkin dikeranakan adanya pergantian penguasa (raja) selama proses pembangunan candi.

5. Borobudur dilihat secara fisik begitu impresif. Memiliki 10 lantai dengan bentuk persegi dan lingkaran. Memiliki relief sepanjang dinding dan arca dalam jumlah yang banyak. Candi ini begitu memperhatikan falsafah yang terkandung dalam ukuran-ukurannya. Hal ini membuktikan bahwa Candi dibangun dengan konsep design yang cukup baik.


6. Candi Borobudur adalah Candi terbesar. Candi Borobudur juga terlihat kompleks dilihat dari design arsitekturalnya Terdiri dari 10 tingkat dimana tingkat 1-6 berbentuk persegi dan sisanya bundar. Dinding candi dipenuhi oleh gambar relief sebanyak 1460 panel. Terdapat 504 arca yang melengkapi candi. Ini jelas bukan pekerjaan design dan pelaksanaan yang gampang. Kesimpulannya candi Borobudur yang bernilai dari sisi design baik teknik sipil maupun seni arsitektur membutuhkan perencanaan dan pengelolaan yang matang dari aspek design maupun cara pelaksanaannya. Saya berkesimpulan Candi ini dibangun dengan manajemen proyek yang sudah cukup baik.



Kesimpulan-kesimpulan di atas akhirnya membawa saya pada suatu kesimpulan umum bahwa Candi Borobudur berbeda dengan bangunan pubakala lainnya yang dipenuhi misteri dan mistis. Candi ini lebih dapat dijelaskan dengan konsep fisika sederhana. Cara membangun candi ini bukanlah suatu hal yang dianggap misteri apalagi mistis.

Candi ini lebih bernilai dan terkenal bukan pada misteri-misteri yang berserakan, tapi candi ini memiliki nilai design Aristektur dan Teknik Sipil serta kemampuan Manajemen Proyek yang tinggi yang menunjukkan kemajuan pemikiran para pendahulu bangsa kita. Kita patut bangga!!!

Sumber : manajemenproyekindonesia.com



Wednesday, June 15, 2011

Misteri Suara Suara Riuh di Tengah Malam


Masih berkaitan dengan suara-suara misterius, ada satu kejadian lain yang hingga kini tak dapat saya lupakan.

Pintu masuk ke kompleks PT. PAL INDONESIA

Sejak akhir tahun 1993 saya bekerja di Departemen Personalia PT. PAL Indonesia, sebuah BUMNIS (Badan Usaha Milik Negara Industri Strategis) yang berlokasi di kawasan Tanjung Perak, Surabaya. Di PT. PAL ini masih banyak gedung-gedung tua, bahkan ada bangunan yang didirikan tahun 1892.

Bangunan peninggalan Belanda buatan tahun 1892 (lingkaran merah)
di dalam kompleks PT. PAL.

Saat itu saya masih beberapa bulan bekerja di perusahaan yang bergerak di bidang pembangunan kapal-kapal niaga dan kapal perang. Suatu sore, Manajer saya mengajak untuk menghadiri rapat di kantor manajemen PT. PAL yang berjarak sekitar 100 meter dari kantor saya. Sudah jadi kebiasaan di sana, bila menggelar rapat sore, pasti pulangnya hampir tengah malam. Walaupun dengan berat hati, sebagai staf yang masih baru, saya manut saja. Bagaimanapun juga, itu adalah proses pembelajaran bagi saya untuk lebih mengenal seluk-beluk pekerjaan di PT. PAL, sekaligus berinteraksi dengan karyawan dari bagian lain.

Benar saja. Hingga jam 10 malam lebih belum ada tanda-tanda rapat bubar. Bahkan makin seru. Saat itulah manajer saya memerintahkan untuk mengambil materi rapat dari meja kerja salah seorang Kepala Bironya, yang kebetulan berkantor satu ruangan dengan saya, dan saat itu tidak ikut rapat.

Jalan menuju kantor Departemen Personalia hanya dihiasi cahaya remang-remang dan harus melalui sebuah gudang tua yang letaknya berseberangan dengan ruang kantor saya. Saya tidak punya pikiran apa-apa, selain rasa kesal yang menggumpal di dada.

Saat “menggeledah” laci meja sang Kepala Biro yang letaknya membelakangi jendela itulah saya mendengar suara riuh, seperti suasana di pasar. Secara reflek saya membuka nako jendela dan mengintip keluar. Astaga, ternyata di luar sangat gelap dan sepi! Tak ada seorangpun di sana.

Dengan bulu kuduk meremang, saya tutup kembali kaca nako dan melanjutkan pencarian materi rapat. Lagi-lagi suara keramaian itu terdengar lagi. Dengan membaca doa-doa sebisanya, saya tenangkan diri dan materi rapat bisa saya temukan, terselip di antara berkas-berkas yang ada di dalam laci.

Lingkaran merah menunjukkan pintu ruang kerja saya.

Keesokan harinya, saya ceritakan pengalaman saya itu ke teman-teman kantor. Sebagai informasi, di PT. PAL ada dua status karyawan, yaitu PNS yang merupakan perbantuan dari TNI-AL dan karyawan murni yang langsung di rekrut oleh PT. PAL. Semua karyawan yang berstatus PNS sudah bekerja di sana sejak sebelum PT. PAL dibentuk oleh BJ. Habibie tahun 1980.

Dari karyawan yang berstatus PNS itulah saya baru mengetahui, bahwa PT. PAL menyimpan banyak misteri berupa kejadian-kejadian gaib. Yang saya alami adalah salah satunya. Diceritakan, bahwa Departemen Personalia dulunya adalah rumah sakit dan ruangan yang saya tempati ada bekas ruang memandikan jenazah!

Keanehan lain

Beberapa minggu kemudian, terjadi keanehan lagi. Siang itu saya baru datang dari ruang komputer dan saat hendak masuk ke ruangan saya, salah seorang PNS wanita menghampiri saya.
“Lho, bapak dari mana?” tanyanya. Saya jawab, “Dari ruang komputer. Kenapa, Bu?”
“Saya baru saja lihat bapak masuk ke ruangan, kok masuk lagi?” katanya, yang membuat saya penasaran.
“Sejak pagi saya di ruang komputer, bu. Baru sekarang ini saya kembali”.
“Ah, bapak jangan bercanda. Saya betul-betul melihat kalau bapak masuk ke situ”, katanya sambil menunjuk pintu ruang kerja saya yang letaknya bersebelahan dengan ruang kerjanya.
“Pak Agus mungkin, bu”, sanggah saya. Pak Agus adalah Kepala Biro yang satu ruang dengan saya.
“Saya ini sudah tua, tapi mata saya masih bisa melihat dengan baik, pak”, ujarnya dengan nada meninggi.

Belum lagi saya menjawab, ibu itu melongok ke ruang kerja saya. Dan memang tidak ada siapa-siapa di sana. Si ibu PNS tetap bersikeras, bahwa ia melihat saya masuk ke ruang itu sementara saya ngotot kalau saya baru saat itu masuk ke sana setelah setengah hari berkutat dengan data-data di ruang komputer.

Beberapa saat kemudian pak Agus datang dan langsung dikonfirmasi keberadaannya pada jam si ibu melihat “saya”. Pak Agus pun menjawab bahwa sejak pagi ia berada di ruang lain yang AC-nya masih berfungsi normal, karena tidak betah berlama-lama di ruangannya sendiri yang gerah akibat AC tua yang hanya menyemburkan angin belaka.

Nah, kalau itu bukan saya, juga bukan pak Agus, lalu siapa?

Dengan adanya kejadian itu, topik mengenai “keangkeran” tempat itu sedikit demi sedikit makin terkuak. Ini di antaranya :

Orang Tua Misterius

Suatu ketika, ada salah seorang teman kantor saya yang datang kepagian karena harus mengantar anaknya yang mengikuti ospek dan harus hadir pagi-pagi. Karena rumahnya jauh, ia memutuskan untuk langsung meluncur ke kantor.

Karena suasana masih sepi, diapun jalan-jalan di halaman sekitar kantor sambil meresapi nikmatnya rokok. Tiba-tiba datang seorang laki-laki tua berpakaian agak kumal menghampirinya untuk minta api. Setelah berbasa-basi sejenak, orang tua itu beranjak dari tempatnya dan masuk ke kantor Departemen Personalia.

Halaman depan kantor Departemen Personalia tempat kemunculan
orang tua misterius.

Hal ini membuat teman saya curiga dan khawatir orang tua itu akan memanfaatkan situasi sepinya kantor untuk melakukan tindak kejahatan. Mencuri misalnya. Maka diam-diam teman saya mengikutinya. Tapi ia keheranan karena di dalam kantor tak dijumpai siapapun. Ia kelilingi ruang demi ruang, tapi orang yang dicurigainya hilang bak ditelan bumi!

Penampakan Nonik Belanda

Misteri berikutnya dialami salah seorang cleaning service. Jam sudah menunjukkan hampir maghrib, tapi ia masih berada di kantor karena diminta oleh manajer saya untuk menemaninya menyelesaikan tugas-tugas kantor. Sambil menunggu, sang cleaning service menyibukkan diri dengan membersihkan beberapa ruang.

Tiba-tiba ia masuk ke ruang kerja manajer dengan wajah ketakutan. Menurut penuturannya, ia melihat seorang wanita bule berpakaian putih berjalan dekat sumur yang ada di kantor tersebut, lalu menghilang!

Tanda lingkaran merah adalah lokasi sumur tempat kerap munculnya
penampakan "Nonik Belanda".

Berdasarkan cerita dari berbagai sumber, lokasi sekitar sumur memang tempat paling angker. Bahkan, satpam yang mendapat giliran ronda malam memilih untuk menjauhi tempat itu, karena di situ sering terlihat sosok misterius seperti yang dilihat oleh sang cleaning service.

Misteri Pintu Digedor

Oh ya, satu kejadian lagi yang saya alami sendiri berkaitan dengan misteri di kantor saya.

Suatu ketika, beberapa tahun setelah kejadian suara riuh, saya mendapat tugas untuk menyiapkan backdrop untuk acara ulang tahun perusahaan. Karena waktu itu belum ada cetak digital ukuran super besar, maka proses pengerjaannya saya kerjakan secara manual, dibantu salah seorang teman kantor dari bagian Diklat. Mengerjakannya pun selepas jam kerja.

Saat waktu menunjukkan jam 11 malam, saya putuskan untuk mengakhiri pekerjaan itu dan dilanjutkan keesokan harinya. Saya berada di ruang kerja saya untuk berbenah, sementara teman saya di ruangannya sendiri yang berjarak sekitar 20 meter. Saat itulah saya mendengar suara salah satu pintu (dalam keadaan terkunci) dekat ruangan saya ditarik-tarik paksa dengan sangat keras hingga menimbulkan suara berisik, seperti digedor. Saya yang sudah selesai berbenah dan hendak mematikan lampu segera keluar untuk melihat siapa yang berulah malam-malam begini. Saya kira teman saya, tapi ternyata tidak ada siapapun di situ! Setengah berlari, saya pun menyusul ke kantor teman saya yang ternyata baru selesai mandi.

Pintu bertanda lingkaran merah inilah yang saya duga digedor secara misterius.
Saya berada di dalam ruangan yang berjarak 2 ruangan dari pintu tersebut
(tanda panah).

Sejak Maret 2010 lalu saya resign dari PT. PAL, tapi kejadian-kejadian misterius itu masih melekat kuat di benak saya. (mp2)



Misteri Suara Gamelan di Tengah Malam



“Di Jogja, siapa pun yang pernah mendengar alunan suara gamelan di tengah malam, akan betah tinggal di kota pendidikan itu”.

Itu yang diucapkan seorang kerabat teman saya (mas Edy namanya) saat saya berkunjung dan menginap di rumahnya di daerah Wirobrajan, Jogja, 23 tahun yang lalu. Itu adalah kedatangan saya untuk pertama kalinya di kota yang dijuluki kota gudeg. Katanya, mitos itu, atau apapun namanya, ia dapatkan saat ia masih kecil Dan katanya lagi, konon hanya orang-orang dari luar Jogja yang kebetulan berada di sana yang berpeluang “diusik” oleh alunan alat musik tradisional itu.

Satu tahun kemudian, tepatnya tahun 1983, saya menjadi warga sementara Jogja, untuk menempuh pendidikan di UPN Veteran, setelah gagal masuk ke perguruan tinggi negeri di Surabaya.


Awal mula menetap di Jogja, saya kos di Jalan Solo Km. 7, yang lokasinya berdekatan dengan kampus UPN di Babarsari, berseberangan dengan rumah dinas TNI-AU. Kos yang berada di pinggir jalan raya itu tergolong masih baru. Ada sekitar 10 kamar, dan kebanyakan masih kosong saat saya pertama masuk. Di kamar kos bertarip Rp. 25.000,- per bulan itu saya tinggal berdua dengan teman satu jurusan berasal dari Madiun di UPN. Dia berasal dari Madiun.

Saya dan teman-teman sepulang refreshing di Wonosobo (1984)
di halaman kos Jl. Solo Km 7 Jogja

Suatu ketika, hampir tengah malam, suasana kos sepi. Teman sekamar saya sudah tidur, tapi entah kenapa mata saya sulit terpejam. Saat itulah lamat-lamat saya mendengar alunan suara gamelan di kejauhan. Saya pikir itu berasal dari suara radio atau ada seseorang yang mengadakan acara selamatan dengan menggelar musik tradisional itu.

Beberapa malam kemudian, kembali saya dengar suara gamelan itu. Karena penasaran, saya keluar kamar, memusatkan konsentrasi pada telinga saya agar lebih jelas dari mana asal suara gamelan itu. Dari situ saya yakin kalau suara gamelan itu berasal dari seberang kos saya. Seberang tapi jauh. Ke arah selatan.

Saya jadi teringat ingat pada ucapan mas Edy setahun yang lalu.

Apakah suara gamelan yang saya dengar ada hubungannya dengan mitos itu?

Jujur saja, saya memang betah di Jogja. Hanya saja, apakah itu karena “kutukan” suara gamelan telah merasuki saya, atau Jogja memang kota yang menyenangkan, seperti yang baru-baru ini dilansir oleh sebuah badan survey, yang menyatakan bahwa Jogja adalah kota ternyaman di Indonesia, saya tidak tahu.

Yang jelas, kerinduan saya untuk kembali ke Jogja tak pernah surut. (mp2)



Blog Archive